one ♥
21st of June 2011
Dear Diary,
Tepat 6 tahun gue tinggal disini... tapi, akhirnya gue balik juga ke
Indonesia. waa.. kangen juga sama Jakarta. Kayak apa ya setelah
terakhir ke Indonesia 2 tahun lalu.. Jadi nggak sabar pengen buru buru
ke Indonesia... hahahah.. eh, tapi paling kangen sama my sweetheart,
Briant♥ awww.... kangen bangeett... Can't wait to see him >.<
Dan kayaknya, remigrasi (cieilah bahasanya :p) kali ini bakalan seru
banget.. eh, tapi kakakku yang paling kusayang, Elton, nggak ikut :( dia
harus nyelesai-in kuliahnya:( hikss... Gapapa deh, nanti juga nyusul,
hehehe..
Yup, so long Denver!
Indonesia, here I come!
♥ ♥ ♥
"Honey, come on, hurry! Yang lain udah nunggu di mobil. Kamu nggak mau nunggu 3 jam lagi buat nunggu penerbangan pesawat berikutnya, kan?"
"Yeah, mom. I'll be there in few minutes," sahut Tiffany.
"Rielle, hurry up. Come on, slowpoke!" terdengar teriakan anak laki-laki yang sudah pasti dikenal Tiffany. Jerry, adik Tiffany yang bawel dan rese.
"Iya! Bawel amat, sih. Huh!" gerutu Tiffany sambil memasukkan buku diary─ yang diberikan "Sweetheart"-nya saat berpisah di Bandara Soekarno-Hatta 2 tahun lalu─ yang baru saja ditulisnya kedalam tasnya, lalu keluar dari kamar.
♥ ♥ ♥
"Ree, habis ngapain kamu? lama amat," kata Dad yang sedari tadi menunggu di bangku pengemudi di mobil.
"He..he.. Sorry, Dad. Aku ngecek kamar aja kok, takut ada yang ketinggalan," jawab Tiffany, dengan sedikit kebohongan tentunya, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah Jerry. Yup, Tiffany punya segudang alasan untuk menutupi kegemarannya menulis diary. Sebenarnya, dia fine-fine aja kalau nggak diledek sama adiknya yang super-duper-wuper rese!
"Ngecek kamar ato nulis diary lagi?" tanya si makhluk yang paling bawel sedunia, meledek. Yup, julukan untuk Jerry dari Tiffany.
"Not your business," sahut Tifanny jutek sambil memasang earphone di telinganya. Sangat jutek. Dia kesel banget kalau udah diganggu sama that disastrous boy. "Dasar mood-breaker" gerutu Tiffany dalam hati.
Ya, kalo jadi Tiffany, mungkin kalian para pembaca juga stress menghadapi anak yang satu ini. Tiffany bosan meladeni adiknya yang rese, cerewet, ca-per, dan iseng itu. Sangat berbeda dengan si sulung, Elton. Wah, kalau Elton sih, tipe pangeran banget. Selain wajahnya yang tampan, ia juga memliki suara berat yang khas dan mampu menghanyutkan orang yang mendengarnya. Mata birunya juga dapat membuat orang yang melihatnya "melt". Dia juga sangat perhatian, baik dan juga pintar. Perfect.Makanya, Tiffany sangat bangga punya kakak seperti Elton.
"Elton, kamu yakin sama keputusan kamu?" tanya Papa lewat jendela mobil, memastikan.
"Aye aye, captain. Aku yakin. Kalian tenang aja, nggak usah kuatir. I'll be fine. Aku pasti nyusul ke Indonesia kalo kuliahku sudah selesai," jawab Elton mantap dengan senyum manis yang sersungging di bibirnya. Senyuman yang dapat membuat semua wanita takluk padanya.
"Yah, kakak. Kenapa kak Elton yang tinggal? Kenapa bukan si anak rese ini aja yang nggak ikut? " rengek Tiffany manja setelah melepas earphone-nya.
"Heh, nyindir siapa sih! Yang rese itu siapa? elu sih yang rese!" jawab Jerry tidak terima dengan ledekan Tiffany.
"Bawel!" sahut Tiffany.
"Sudahlah. Tiffany, aku janji, setahun lagi aku pasti pulang ke Indonesia," jawab Elton. Ya, ia rasa cukup melegakan mendengar dua adiknya, yang bertengkar terus, diam.
"Promise?" sahut Tiffany sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"I promise," jawab Elton sambil tersenyum dan ikut melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Tiffany. "Sudah sana berangkat, nanti ketinggalan pesawat," lanjutnya sambil mengacak-acak rambut Tiffany.
"Ya. Jaga dirimu, nak." kata Mama. Mesin mobil dinyalakan. Mobil mulai berjalan menjauh dari rumah. Menjauh dari Elton.
"Bye-bye, Elton. Gonna miss you!" teriak Tiffany dari jendela mobilnya yang kini semakin menjauh. Kepalanya keluar jendela sambil melambai dan lalu di balas lambaian tangan Elton.
"Elton aja terus yang di kangenin. Me? Never being missed. Kenapasih lo pilih kasih?" protes Jerry.
"Pikir aja sendiri!" jawab Tiffany singkat. Lalu memasangkan kembali earphone ditelinganya.
"He..he.. Sorry, Dad. Aku ngecek kamar aja kok, takut ada yang ketinggalan," jawab Tiffany, dengan sedikit kebohongan tentunya, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah Jerry. Yup, Tiffany punya segudang alasan untuk menutupi kegemarannya menulis diary. Sebenarnya, dia fine-fine aja kalau nggak diledek sama adiknya yang super-duper-wuper rese!
"Ngecek kamar ato nulis diary lagi?" tanya si makhluk yang paling bawel sedunia, meledek. Yup, julukan untuk Jerry dari Tiffany.
"Not your business," sahut Tifanny jutek sambil memasang earphone di telinganya. Sangat jutek. Dia kesel banget kalau udah diganggu sama that disastrous boy. "Dasar mood-breaker" gerutu Tiffany dalam hati.
Ya, kalo jadi Tiffany, mungkin kalian para pembaca juga stress menghadapi anak yang satu ini. Tiffany bosan meladeni adiknya yang rese, cerewet, ca-per, dan iseng itu. Sangat berbeda dengan si sulung, Elton. Wah, kalau Elton sih, tipe pangeran banget. Selain wajahnya yang tampan, ia juga memliki suara berat yang khas dan mampu menghanyutkan orang yang mendengarnya. Mata birunya juga dapat membuat orang yang melihatnya "melt". Dia juga sangat perhatian, baik dan juga pintar. Perfect.Makanya, Tiffany sangat bangga punya kakak seperti Elton.
"Elton, kamu yakin sama keputusan kamu?" tanya Papa lewat jendela mobil, memastikan.
"Aye aye, captain. Aku yakin. Kalian tenang aja, nggak usah kuatir. I'll be fine. Aku pasti nyusul ke Indonesia kalo kuliahku sudah selesai," jawab Elton mantap dengan senyum manis yang sersungging di bibirnya. Senyuman yang dapat membuat semua wanita takluk padanya.
"Yah, kakak. Kenapa kak Elton yang tinggal? Kenapa bukan si anak rese ini aja yang nggak ikut? " rengek Tiffany manja setelah melepas earphone-nya.
"Heh, nyindir siapa sih! Yang rese itu siapa? elu sih yang rese!" jawab Jerry tidak terima dengan ledekan Tiffany.
"Bawel!" sahut Tiffany.
"Sudahlah. Tiffany, aku janji, setahun lagi aku pasti pulang ke Indonesia," jawab Elton. Ya, ia rasa cukup melegakan mendengar dua adiknya, yang bertengkar terus, diam.
"Promise?" sahut Tiffany sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"I promise," jawab Elton sambil tersenyum dan ikut melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Tiffany. "Sudah sana berangkat, nanti ketinggalan pesawat," lanjutnya sambil mengacak-acak rambut Tiffany.
"Ya. Jaga dirimu, nak." kata Mama. Mesin mobil dinyalakan. Mobil mulai berjalan menjauh dari rumah. Menjauh dari Elton.
"Bye-bye, Elton. Gonna miss you!" teriak Tiffany dari jendela mobilnya yang kini semakin menjauh. Kepalanya keluar jendela sambil melambai dan lalu di balas lambaian tangan Elton.
"Elton aja terus yang di kangenin. Me? Never being missed. Kenapasih lo pilih kasih?" protes Jerry.
"Pikir aja sendiri!" jawab Tiffany singkat. Lalu memasangkan kembali earphone ditelinganya.
♥ ♥ ♥
"Bye-bye, Elton. Gonna miss you!"
"Gonna miss you too," jawab Elton pelan. Setelah puas melambai, karena ia tak ingin berlama-lama diluar, ia segera masuk ke rumah. Ini musim panas. Biasanya dalam musim panas, Elton sangat bersemangat untuk melatih skill-nya dalam olahraga baseball. Tapi, sudah beberapa hari ia merasa lemas. Untungnya terik matahari dan keadaan fisiknya dapat mengurungkan biatnya untuk pergi dari rumah. Lagi. "Mungkinkah? Apakah betul aku lemas seperti ini karena masalah itu? Nggak, aku nggak boleh terlihat sedih dan lemas," kata Elton pada dirinya sendiri, dalam hati.
"Ma'am, i'm hungry. Prepare the friedrice, please," teriak Elton pada pembantu rumah tangganya.
♥ ♥ ♥
"Ma, masih jauh nggak?" tanya Tiffany.
"No, we almost arrived," jawab Mama.
"Use Indonesian, please," sahut Jerry. "Kita kan mau menetap di Indonesia lagi, jadi kita harus melatih bahasa Indonesia kita lagi. Kalo aku sih nggak perlu dilatih nggak apa-apa. Otakku kan memorinya jauh lebih gede daripada....."
"Siapa? Hah? Siapa yang lo sindir?" jawab Tiffany yang langsung be-te lagi.
"Sensi amat, sih," kata Jerry.
"Sudahlah, " kata Papa mencoba menengahi dan berhasil.
Denver International Airport
Suasana Denver dan bandaranya pagi itu cukup ramai. Lalu lalang orang-orang berjalan kaki, mobil-mobil yang mulai bersliweran, kesana kemari memadati jalan raya. Biasanya tujuan mereka berlibur, maklumlah summer. Dan, tempat-tempat hiburan pun mulai ramai. Bagi keluarga-keluarga seperti keluarga Tiffany yang bisa dibilang upper-class, biasanya langsung cabut ke luar kota, bahkan keluar negri.
Bandara Denver International lumayan ramai hari ini. Ya, libur panjang sih.
"Huahh, akhirnya sampai juga, ya. Capek," kata Tiffany keluar dari mobil lalu merentangkan tangannya.
"Capek? emang lo ngapain? duduk doang aja capek," cibir Jerry lalu keluar dari mobil juga.
"Ga suka aja sih lo!" jawab Tiffany be-te lalu berjalan pergi menjauhi Jerry. Jerry mengikuti. Mama, yang sedari tadi melihat mereka beradu mulut, hanya diam menghela napas. Dari sejak kecil, Tiffany dan Jerry selalu bertengkar. Dan Elton yang selalu menengahinya.
"Kalian ini, dari kecil sampai sekarang udah gede, masih aja bertengkar terus. Ga ada akurnya. Ada apa, sih?" tanya Mama lembut, sambil berjalan mengikuti mereka dan mengelus rambut kedua anak bungsunya. "Kalo dulu sih, Mama bisa santai. Kan ada Elton yang nengahin kalian. Kalo sekarang? Wah, bakalan pusing nih. Jadi, jangan berantem terus, ya," lanjutnya sambil tersenyum kepada mereka. Tapi tetap saja, perkataan Mama tidak bisa membuat mereka akur, entahlah. Mereka tetap membuang muka pada kedua sisi.
Hei, kalo ngomongin soal masa kecil, gue inget sesuatu, hihihi, kata Tiffany dalam hati sambil senyam-senyum sendiri.
"Kenapa lagi ini malah senyum-senyum sendiri," protes Jerry yang tidak sengaja melihat Tiffany sedang tersenyum setelah mendengar omongan Mama tadi.
"Dimana, ya, anak itu sekarang?" tanya Tiffany seakan tidak mendengar celotehan Jerry tadi lalu berjalan seakan sedang mencari seseorang.
"Hah?" Jerry malah bingung. "Ngomong apa sih nih anak," lanjutnya sambil melirik Tiffany dengan tatapan heran.
- to be continue -
Bandara Denver International lumayan ramai hari ini. Ya, libur panjang sih.
"Huahh, akhirnya sampai juga, ya. Capek," kata Tiffany keluar dari mobil lalu merentangkan tangannya.
"Capek? emang lo ngapain? duduk doang aja capek," cibir Jerry lalu keluar dari mobil juga.
"Ga suka aja sih lo!" jawab Tiffany be-te lalu berjalan pergi menjauhi Jerry. Jerry mengikuti. Mama, yang sedari tadi melihat mereka beradu mulut, hanya diam menghela napas. Dari sejak kecil, Tiffany dan Jerry selalu bertengkar. Dan Elton yang selalu menengahinya.
"Kalian ini, dari kecil sampai sekarang udah gede, masih aja bertengkar terus. Ga ada akurnya. Ada apa, sih?" tanya Mama lembut, sambil berjalan mengikuti mereka dan mengelus rambut kedua anak bungsunya. "Kalo dulu sih, Mama bisa santai. Kan ada Elton yang nengahin kalian. Kalo sekarang? Wah, bakalan pusing nih. Jadi, jangan berantem terus, ya," lanjutnya sambil tersenyum kepada mereka. Tapi tetap saja, perkataan Mama tidak bisa membuat mereka akur, entahlah. Mereka tetap membuang muka pada kedua sisi.
Hei, kalo ngomongin soal masa kecil, gue inget sesuatu, hihihi, kata Tiffany dalam hati sambil senyam-senyum sendiri.
"Kenapa lagi ini malah senyum-senyum sendiri," protes Jerry yang tidak sengaja melihat Tiffany sedang tersenyum setelah mendengar omongan Mama tadi.
"Dimana, ya, anak itu sekarang?" tanya Tiffany seakan tidak mendengar celotehan Jerry tadi lalu berjalan seakan sedang mencari seseorang.
"Hah?" Jerry malah bingung. "Ngomong apa sih nih anak," lanjutnya sambil melirik Tiffany dengan tatapan heran.
♥ ♥ ♥
"Kak, ambilin robot yang itu dong," kata Jerry kecil sambil menunjuk ke arah robot mainannya yang ada di antara mainan-mainannya yang tengah berserakan.
"Nih," kata Elton sambil terseyum. Hari ini, memang jadi "Hari Rumah Berantakan" buat rumahnya Tiffany. Hari ini, Jerry udah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit karena kondisinya mulai stabil setelah operasi. Sekarang, Jerry bebas dari penyakit amandel yang cukup membuatnya sengsara. Eh, tunggu, kayaknya bukan cuma dia yang sengsara. Seisi rumah juga sengsara. Ya, bukan cuma karena kasian, tapi ituloh "Konser Rock" (dibaca: tangisan, rengekan, jeritan dan teriakan)-nya itu yang bikin kuping pengang dengan sukses.
- to be continue -
No comments:
Post a Comment