Siang ini terik
sekali. Langit terlihat sangat terang, tanpa awan. Banyak anak terlihat
dijemput orang tuanya. Beberapa masih bermain sepeda di sekitar sekolah sambil
bercanda, tidak peduli dengan panasnya cuaca hari ini yang bisa membuat mereka
mimisan. Bahkan sekelompok anak laki-laki masih berlari-lari, mengejar bola
yang menggelinding cepat di lapangan tanah itu. Tanpa alas kaki. Mereka seperti
sudah ‘berteman’ dengan lapangan tanah yang cukup panas karena kena sinar
matahari.
Kira duduk manis
dibawah pohon mangga di dekat pintu gerbang sekolah, menunggu kakaknya
menjemputnya. Kemeja putihnya terlihat kusam, tapi rapi. Sementara rok merahnya
masih bagus walaupun masih kepanjangan di tubuh Kira yang mungil. Seragam itu
dulu kepunyaan Haruko, kakak Kira yang sekarang sudah duduk di bangku SMP.
Teman-teman Kira juga memakai baju yang ‘sejenis’ dengannya. Beberapa yang
orang tuanya tergolong mampu, memakai seragam baru yang menurut Kira sangat
berkilauan (tentu saja ia membandingkannya dengan miliknya). Sekolahnya
sederhana. Bangunannya tidak terlalu besar namun memiliki dataran kecoklatan
yang cukup luas, lapangan tanah maksudnya. Cat hijau tua pada dinding-dindingnya
mulai pudar, dan pagar kayu yang menjadi gerbang sekolah itu agak lapuk.
Meja-meja dan kursi-kursi kayunya masih bagus, baru diganti beberapa tahun yang
lalu. Beberapa papan langit-langit kelas lapuk dan mencuat, namun syukurlah
atapnya tidak bocor.
SD ini memang berada di desa kecil. Jauh dari bising kendaraan bermotor yang bersliweran, jauh dari polusi udara akibat asap-asap kendaraan, jauh dari kepadatan jalanan. Tentu saja masih banyak pepohonan yang tumbuh. Kalaupun suatu saat oksigen di dunia habis, menurut Kira, pohon-pohon di desa ini akan dengan senang hati memberikan oksigen yang dihasilkannya.
SD ini memang berada di desa kecil. Jauh dari bising kendaraan bermotor yang bersliweran, jauh dari polusi udara akibat asap-asap kendaraan, jauh dari kepadatan jalanan. Tentu saja masih banyak pepohonan yang tumbuh. Kalaupun suatu saat oksigen di dunia habis, menurut Kira, pohon-pohon di desa ini akan dengan senang hati memberikan oksigen yang dihasilkannya.
Keringat membasahi
dahi dan pipinya yang terlihat kemerahan karena kepanasan. Biasanya kakak nggak se-lama ini, pikir Kira. Kunciran rambutnya
turun dan terlihat berantakan. Kira sedang membetulkan ikatan rambutnya ketika
ia melihat sepeda kakaknya melaju kearahnya. Haruko terlihat gembira.
“Kira, maaf ya,
kakak terlambat jemput kamu,” kata Yuko setelah ia membonceng adiknya dan
mengayuh sepedanya.
“Nggak apa-apa kok,
kak,” Kira tersenyum. Tangan kecilnya memeluk Yuko dari belakang sementara Yuko
masih mengayuh sepedanya.
“Kira, kamu tahu
nggak,” Yuko berkata tiba-tiba. “Karen main ke rumah kita, lho.” Yuko menengok
ke arah Kira sekilas sambil tersenyum. Karen adalah sepupu jauh mereka yang
tinggal di kota. Karen anak orang kaya tetapi ia tidak sombong. Ia mau bermain
dengan sepupu-sepupunya yang tinggal didesa. Sama seperti Kira, Karen masih
duduk di bangku sekolah dasar. Namun, Karen bersekolah ditempat yang jauh lebih
bagus daripada sekolah Kira. Kata Karen, sekolahnya ber-AC tapi bel sekolahnya
tidak memakai lonceng betulan. “Aku lebih suka bel sekolahmu, Kira,” kata Karen
waktu libur natal tahun lalu ketika mereka mengunjungi sekolah Kira. Karen
sudah memiliki sebuah ponsel miliknya sendiri, sementara Kira masih menunggu jawaban
dari suratnya (yang berisi permohonan ingin mempunyai sepeda, agar ia tidak
perlu merepotkan kakaknya) pada Tuhan yang ia taruh di keranjang didekat
jendela kamarnya. Tiba-tiba, Kira ingat isi surat yang terakhir ia tulis. Dalam
surat itu, untuk pertama kalinya dan mungkin untuk yang terakhir kalinya (Kira
merasa menyesal menulisnya), Kira mengeluh pada Tuhan tentang kondisi ekonomi
keluarganya dan lingkungan tempat tinggalnya yang terpencil. Ia mengeluh
tentang panasnya siang hari kalau ia dijemput kakaknya naik sepeda, sementara
Karen bilang ia pulang-pergi diantar supir naik mobilnya. Ia mengeluh tentang
komputer dan internet yang belum ia miliki, tentang ponsel yang selalu ia lihat
dari Karen, tentang baju-baju bagus dan aksesori lucu milik Karen. Dalam
suratnya itu, secara tidak langsung menunjukan bahwa Kira iri. Kira iri pada
saudara sepupunya, Karen. Sepupunya itu memang tidak sombong, tidak meremehkan
Karen. Ia memang menunjukan atau menceritakan barang-barangnya pada Kira,
tetapi dengan maksud agar Kira tahu dan mungkin mereka bisa memakainya
bersama-sama. Tuhan marah nggak, ya, sama
Kira karena Kira mengeluh?, pikir Kira dalam hati.
“Kira!”
Suara itu
membuyarkan lamunan Kira. Setelah sadar, sepeda Yuko sudah berhenti di depan
rumah mereka. Astaga, Kira melamun sepanjang perjalanan pulang.
“Kira!” panggilnya
lagi. Itu suara Karen. Ia sedang berdiri di teras rumah Kira.
“Halo, Karen. Apa
kabar, kamu?” Kira turun dari sepeda Hana lalu menghampiri Karen sambil
tersenyum.
“Aku baik. Kira
gimana?” Karen balas tersenyum.
“Kira juga
baik-baik aja, kok. Kapan Karen sampai disini?”
“Belum lama, kok.”
Karen kembali tersenyum. “Kira, kita main, yuk. Aku hari ini bawa iPad. Kita main sama-sama, ya.” Karen
menggandeng tangan Kira masuk kedalam rumah Kira.
“Ai-pet?” eja Kira dalam logat bahasa
Indonesia.
“Iya, kayak gini,
nih” Karen mengeluarkan iPad-nya dari
tas Winnie the Pooh miliknya. “Ini namanya iPad. Kata kakakku, ini bisa buat
main. Kayak gini caranya,” jelas Karen, lalu ia dengan lihai menggerakan
jarinya diatas layar iPad-nya. Kira
kagum melihatnya. Canggih, katanya.
Hari itu mereka berdua terlalu asyik bermain iPad , kadang Haruko datang menhampiri mereka dan melihatnya bermain, atau ikut bermain, sampai tiba saatnya untuk Karen pulang ke rumahnya. Karen pamit kepada Kira, Haruko, dan kedua orang tua mereka. Lalu mengucapkan salam dan pulang naik mobil yang biasa ia naiki. Karen biasa pulang-pergi diantar supirnya karena orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Tetapi kata Karen, orang tuanya selalu memperhatikannya.
Hari itu mereka berdua terlalu asyik bermain iPad , kadang Haruko datang menhampiri mereka dan melihatnya bermain, atau ikut bermain, sampai tiba saatnya untuk Karen pulang ke rumahnya. Karen pamit kepada Kira, Haruko, dan kedua orang tua mereka. Lalu mengucapkan salam dan pulang naik mobil yang biasa ia naiki. Karen biasa pulang-pergi diantar supirnya karena orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Tetapi kata Karen, orang tuanya selalu memperhatikannya.
Sinar matahari
siang yang terik sudah berganti dengan sinar bulan sabit yang remang-remang.
Kira sedang duduk di tempat tidurnya dan menghadap kearah jendela. Memandang
langit dan sekilas memandang keranjang berisi surat-surat permohonan yang ia
tujukan kepada Tuhan. Kira percaya setiap malam ketika semuanya terlelap dalam
tidurnya masing-masing, Tuhan datang ke rumah Kira dan membaca surat-surat
Kira. Lalu Tuhan akan membuat daftar tentang permohonan Kira dan
mengurutkannya. Kata Kira, surat yang sudah ditaruh di Keranjang Harapan itu
tidak boleh diambil lagi, kalau diambil permohonannya tidak akan terkabul.
Malam ini Kira hanya duduk, mandang surat-surat yang ia tulis dalam Keranjang Harapan-nya. Ia berharap Tuhan tidak marah ketika membaca surat terakhirnya. Kira sekarang menyesal, dan ia memutuskan untuk berdoa.
Malam ini Kira hanya duduk, mandang surat-surat yang ia tulis dalam Keranjang Harapan-nya. Ia berharap Tuhan tidak marah ketika membaca surat terakhirnya. Kira sekarang menyesal, dan ia memutuskan untuk berdoa.
Kira melipat
tangannya, lalu memejamkan mata. “Tuhan, Kira minta maaf. Nanti malam, waktu
Tuhan baca surat Kira, Tuhan jangan marah, ya. Kira sebenarnya tidak bermaksud
menyalahkan Tuhan karena telah memberi Kira hidup seperti ini. Kira hanya ingin
merasakan menjadi orang kaya, seperti Karen. Karen terlihat bahagia terus,
nggak kesusahan kayak Kira sama kakak, kayak ibu sama bapak,” Kira diam
sejenak, menarik napas panjang. Lalu ia melanjutkan, “Tapi kalau Tuhan bolehin,
Kira pingin sekali menjadi orang kaya. Kayak Karen gitu, Tuhan. Punya ponsel
sendiri, punya sepeda, rumahnya bagus, punya mobil. Boneka-bonekanya lucu.
Bajunya juga bagus-bagus. Kira yakin, suatu saat nanti Tuhan kabulkan doa Kira.
Amin,” Kira membuka matanya. Ia terdiam sejenak, kembali memandang kumpulan
suratnya, lalu akhirnya memutuskan untuk tidur.
Kira terbangun dari
tidurnya yang empuk dan menguap. Kira melihat jendela yang memperlihatkan
suasana malam. Kira mengusap mata lalu melihat sekelilingnya. Kira terkejut
melihat apa yang ia lihat. Ia berada di ruangan yang besar, bercat warna merah
muda, dengan meja belajar yang indah, dan laptop diatasnya. Ia duduk di sebuah
ranjang yang empuk, yang dibelakangnya terdapat meja berisi boneka-boneka lucu.
Ia kembali mengusap matanya dengan cepat. Kira yakin ini bukan kamarnya. Kira
merasa ada di alam mimpi, tetapi mengapa mimpi itu begitu nyata? Ketika ia
sedang berpikir ketika ia melihat di depan kiri ruangan terdapat pintu yang ada
gantungan nama bertuliskan “Karenina” terbuka cepat. Kira tersentak kaget, Kira
melihat Karen bergegas membuka laci meja belajarnya dan laci lemari di
sampingnya dan membongkarnya, seperti sedang mencari sesuatu. Lalu terdengar
teriakan keras dari seseorang yang kedengaran seperti suara Rachel, kakak Karen
yang judes dan galak. “Cepetan ih, temuin jaket gue yang lo pinjam kemarin,”
sedetik kemudian, Rachel sudah berada di kamar Karen, berkacak pinggang marah. Kira
yang menyadari dirinya di atas ranjang Karen langsung turun dan melihat mereka
dengan sorot mata ketakutan. Kira sedang mempersiapkan mental untuk dimarahi
Rachel ketika ia ditembus begitu saja oleh Karen yang bersiap mengacak-acak isi
lemari belakangnya. Kira tersentak, ia kaget karena ia melihat Karen menembus
dirinya, tetapi ia tidak merasakan apa-apa. Kira membalikkan badan dan
mendapati Karen berdiri dan berjalan ke arah Rachel sambil membawa sebuah jaket
biru berhiaskan pita putih dibagian belakangnya. Kira melihat Karen memberikan
jaket itu kepada Rachel yang mendengus, lalu melihat tajam ke arah adiknya,
lalu pergi meninggalkan Karen setelah menerima jaketnya. Karen menutup pintu
dengan pelan lalu berjalan menuju meja belajarnya. Kira mendekati Karen, dan
duduk di kursi disebelah Karen. Kira menepuk lengan Karen, lalu berkata, ”Karen
kenapa?”. Tetapi Karen hanya diam menatap kosong kearah foto yang terbingkai
rapi di meja belajarnya. Foto yang memperlihatkan keluarga bahagia, dengan
empat orang yang tersenyum didalamnya. Melihat Karen yang diam, Kira
mengalihkan pandangan ke arah foto itu. Kira melihat mama dan papa Karen,
Rachel dan seorang anak perempuan yang menurut Kira adalah Karen. Keempatnya
tersenyum tulus. Ketika Kira sedang asyik memperhatikan foto itu, Karen
menghela napas. Lalu ia melipat tangannya dan memejamkan matanya. Ia berkata,
“Selamat malam Tuhan. Hari ini, Karen berterimakasih karena telah diberi
kesempatan untuk masih bisa hidup disini, bersama keluarga. Terimakasih karena
Karen sudah diberi makanan enak dan baju yang layak. Karen hanya sedih melihat
sikap kakak yang begitu judes terhadapku,” Karen kembali menghela napas
panjang. Kira tahu, Rachel bersikap begitu karena Karen adalah anak kesayangan
mama dan papa mereka. “Karen juga kangen sama mama dan papa yang dulu selalu
ada buat Karen. Karen mengerti, sih, mama dan papa sibuk bekerja untuk kakak
dan Karen. Tetapi Karen ingin mereka lebih memperhatikan kakak dan juga Karen
ingin mereka punya waktu yang banyak untuk kami habiskan bersama-sama. Karen
ingin seperti keluarganya Kira,” Mata kira membesar mendengarnya. “Walaupun
mereka hidup sederhana, mereka sangat harmonis. Saling mengerti satu sama lain.
Kira pasti senang punya kakak yang ramah dan baik hati seperti kak Yuko. Kira
juga nggak akan kesepian, karena mama dan papanya pasti ada disana menemani
Kira. Karen... ingin seperti Kira.” Kalimat terakhir ini membuat Kira tersadar.
Kehidupan Karen tidak seindah yang ia bayangkan. Ternyata, Karen merasa
kesepian. Tidak seperti keluarga Kira yang selalu ada di sana menemaninya.
Walaupun Karen hidup mewah, tetapi ia kesepian. Ia tidak lebih bahagia jika
dibandingkan dengan Kira yang lebih sederhana namun sangat bahagia. Kira sadar
dan mulai menerima kenyataan bahwa ia lebih beruntung dari Karen.
“Kira, bangun
sayang,” Suara ibu menggema ditelinga Kira. Seketika sosok Karen yang sedang
berdoa dan suasana kamar mewahnya mulai kabur dan digantikan dengan sosok ibu
di kamar Kira.
“Kira, ayo
siap-siap. Katanya mau jalan-jalan sama Karen?” Ibu tersenyum, dan duduk di
ranjang bekas yang biasa saja, tanpa renda-renda seperti yang ia lihat tadi.
Ibu membelai dahi dan rambut Kira. Kira yang masih setengah sadar berkata,
“Karen mana, bu?”
“Lho, Karen
dirumahnya, lah,” Kata Ibu dengan logat Jawa yang khas. “Kok kamu nanya Karen,
ada apa, nak?” Kira bingung, namun ia memutuskan untuk menjawab, “Nggak apa-apa
kok, bu,” lalu ia tersenyum. Ibu ikut tersenyum, lalu berdiri dan berkata,
“Ayo, kamu mandi, setelah itu sarapan. Ibu di dapur ya, Kira,”
“Iya, bu,” Kira
masih terbaring di ranjangnya ketika ibu meninggalkan kamarnya. Kamarnya masih
seperti biasanya. Lampu kecil menerangi ruangan kecilnya. Meja belajar kayunya
masih berdiri tegak disamping pintu. Di jendelanya maish terdapat sekeranjang
surat miliknya. Kira sadar bahwa kejadian tadi hanya mimpi. Mimpi yang begitu
nyata. Mengingat suratnya, Kira mengambil Keranjang Harapan-nya dan betapa
kagetnya ia melihat tidak ada surat yang ia tulis ditumpukan atas. Kira
bergegas turun dari ranjang dan sudah memutuskan akan berjalan ke teras hendak
menanyakan kepada ayah apakah ayah iseng membaca suratnya lagi, ketika ia
berhenti didepan pintu, melihat sepucuk surat tergeletak di atas meja
belajarnya. Itu surat terakhir yang ia tulis. Tunggu, kenapa surat itu bisa ada disini?. Pikir Kira. Ia mengambil
surat itu, dan matanya membesar ketika membaca tulisan di amplop surat yang
bertuliskan dengan tinta hitam: “ Jadi,
Kira ingin bertukar hidup dengan Karen? “. Kira tersenyum melihatnya. Kira menggeleng pelan dan walaupun perhatiannya masih tertuju pada tulisan itu, ia langsung menjawab,
“Nggak, Tuhan. Kira ingin menjadi Kira sendiri. Kira bangga dengan keluarga dan
hidup Kira sendiri. Makasih Tuhan,” Kira tersenyum. Ia meletakan surat itu
kembali ke Keranjang Harapan-nya dan bergegegas pergi ke kemar mandi dengan
ceria.
***
Kira sedang
menunggu di teras ketika ia melihat mobil Karen berhenti di jalan kecil depan
rumahnya. Karen turun dari mobil dan menghampiri Kira. Kira tersentak ketika
melihat Karen memakai jaket biru berhiaskan pita putih dibelakangnya. Jaket
yang sama yang ia lihat Karen mencarinya kemana-mana kemarin. Jaket yang ia
temukan di laci lemari bonekanya. Jaket yang sama yang ada di mimpi Kira. Karen
tersenyum lalu berkata, “Maaf ya, Kira. Aku terlambat. Habisnya, butuh waktu
lama untuk memohon pada kak Rachel untuk meminjamkannya lagi kepadaku setelah
aku hilangkan kemarin. Untung ketemu di kamarku. Aku lupa menaruhnya saat aku
main boneka, aku malah menyimpannya bersama bonekaku di laci lemari,” Karen
tertawa kecil. Mata Kira masih membesar dan mulutnya terbuka, ketika Karen
mengehela napas ringan lalu berkata, “Hidup itu kadang-kadang kayak mimpi, ya”
Mata Karen menerawang. Kira tidak mengerti maksud ucapan Karen dan masih
ternganga. Melihat Kira masih terdiam, Karen tersenyum, ia menggandeng tangan
Kira lalu berkata, “Kira? Kok bengong. Ayo, nanti kita makin terlambat,” mereka
berdua melambai ke arah keluarga Kira, tersenyum, lalu masuk kedalam mobil.
Setelah didalam mobil, Kira berkata kepada Karen. “Karen, tadi malam aku
mimpiin kamu, lho,” Katanya riang. “Kamu lagi berdoa waktu aku ada disamping
kamu, terus aku kebangun, deh.” Mata Karen membesar, lalu berkata, “Oh, ya?
Pantasan aku merasa seperti ada orang yang menepuk pundak aku waktu aku
berdoa,” Karen tersenyum, lalu ia mendengar Kira berkata, “Ternyata hidup itu
memang kayak mimpi,” lalu mereka berdua tersenyum.
No comments:
Post a Comment