Saturday, October 6, 2012

promises - part one

       "Happy birthday, Rachelle."
Terlihat seorang ibu sedang menyambut seorang anak perempuan yang baru turun dari tangga lantai atas.
       "Thank you, Ma," kata anak cewek yang ternyata sedang berulang-tahun hari ini. Ia menerima cium sayang di pipinya dari ibunya setelah memberi ucapan selamat ulang tahun. Mama lalu memberinya kado yang dilapisi kertas bercorak polkadot berwarna putih dengan background warna biru langit, warna kesukaannya. Kado yang diberikan mama berbentuk kotak kecil dan tidak berat.

       "Ini isinya apa, Ma?" tanya Rachelle sambil menggoyangkan kotak yang diberikan mama didekat telinga, seakan dengan mendengar bunyi dari dalam kotak itu dapat memberi clue tentang teka-teki apa yang ada di dalam kado itu.
       "Coba aja kamu buka," jawab mama dengan senyum lebar di bibirnya. Karena Rachelle tidak berhasil mendapatkan clue dari suara yang dihasilkannya, dan tentunya tidak berhasil menebak, ia langsung membuka kertas yang melapisi kotak kecil itu. Kotak ini dilapisi kain beludru yang berwarna merah. Kotak ini terlihat seperti kotak perhiasan. Rachelle lalu membuka kotak tersebut dengan gerakan lambat, seperti gerakan slowmotion di film-film action yang mendebarkan. Setelah melihat isinya, Rachelle terkejut lalu tersenyum. Rachelle memeluk kotak tersebut, lalu ia teringat pada pemberi hadiah tersebut. Ia memeluk mamanya erat sambil berkata, "Makasih ya ma, aku suka banget kalungnya."

       "Kamu suka, sayang? Mama seneng kalo kamu suka," jawab mama setelah melepas peluknya dari Rachelle.
       "Suka banget, ma." Rachelle kembali tersenyum dan memandang lekat mamanya. "Ma, tolong pasangin dong kalungnya,"
Rachelle menyodorkan kotak berisi kalung tersebut ke mamanya. Mamanya lalu memasang kalung tersebut di leher anak tunggalnya.

       "Cantik. Kamu cantik, Rachelle," terdengar suara berat berwibawa, suara papa.
       "Papa, udah bangun?" tanya Rachelle pada papanya sambil tersenyum. Rachelle melihat kembali kalung yang berada di lehernya lalu menyentuhnya.
       "Udah dong, masa papa telat bangun buat ngerayain hari ulang tahun anak papa yang cantik ini," jawab papa sambil berjalan mendekati sofa tempat istri dan anaknya berada. "happy birthday, Chelle,"

       "Makasih, pa," jawab Rachelle setelah mendapat kecupan di keningnya, lalu tersenyum.
       "Ini, papa punya hadiah buat kamu." Papa langsung memberikannya sebuah tas yang cukup besar dengan bentuk yang aneh, yang daritadi disembunyikan dibalik tubuhnya. Bentuk tasnya aneh. Ini bukan ransel, pikir Rachelle. Rachelle mengambilnya dari tangan papa, lalu terdiam. Ia sadar betul ini bukan ransel. Ini biola.

       "Papa, ini biola? Buat aku?" tanya Rachelle dengan girang.
       "Iya, biola itu punya kamu. Papa tau kamu suka musik. Jangan kira papa ngga tau kamu suka pinjem biola temen kamu terus mainin lagunya di teras atas."
       "Ih, kok papa bisa tau?"
       "Papa gitu loh. Papa kan ngerti banget kesukaan anak kesayangannya. Keren, kan?" sahut papa dengan senyum bangga menghiasi wajahnya yang terlihat segar.
       "Iya lah, orang mama yang kasih tau papa,"  timpal mama yang sekarang langsung dielak papa.
       "Ngga kok, Chelle. Papa emang sebelumnya udah tau, ya mama cuma nyampein aja, tapi awalnya papa udah tau kok," jawab papa berusaha meyakinkan Rachelle yang seadritadi hanya tertawa kecil.
       "Bohong, Chelle. Papa taunya dari mama itu," sambung mama lagi, Rachelle tertawa mendengarnya.
       "Jangan percaya mama, Chelle. Papa beneran tau kok," jawab papa sekali lagi, berusaha membuat Rachelle percaya padanya. Rachelle tertawa lagi, diikuti tawa mama. "Udah ah, ayo sana siap-siap. Kita jalan-jalan yuk hari ini,"
       "Mau kemana kita, Pa?" tanya Rachelle.
       "Terserah kamu, Chelle. Hari ini kamu bebas nentuin mau kemana kita jalan-jalan," jawab mama yang kini mendekati Rachelle dan papa yang sudah duduk berhadapan di sofa ruang tamu. Sedari tadi mama sibuk menyiapkan sarapan.

       "Asyik! kalau gitu aku mau siap-siap dulu ya, Ma, Pa," jawab Rachelle bersemangat. Sangat bersemangat.
       "Chelle, sarapan dulu. Baru kalau udah selesai sarapan kamu siap-siap," kata mama mengingatkan.
       "Oh iya, oke deh, ayo kita sarapan!" jawab Rachelle riang setelah menaruh biolanya di sofa ruang keluarga.

~~~~~~~~~

       Rachelle senang sekali, ulang tahunnya kali ini sangat menyenangkan. Selain diberi kalung, bertuliskan "Rachelle" diatas liontin berbentuk hati yang menggembung, dan diberi biola yang dangat diinginkannya, ia juga merasa semakin dekat dengan keluarga kecilnya. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya di rumah yang terbilang mewah dan di kawasan elit pula. Hanya sajaa ia tidak mempunyai saudara. Rachelle anak tunggal. Anak tunggal yang sangat dibanggakan kedua orang tuanya, bahkan orang lain.

       Rachelle memiliki paras cantik dengan tinggi badan rata-rata anak kelas 5 SD. Rambut hitamnya panjang (sedikit bergelombang dibagian bawahnya) dan cukup tebal. Kulitnya terbilang putih mulus dan badannya cukup mungil. Matanya cukup besar dengan iris berwarna abu-abu kehitaman. Kakek Rachelle dari ibu memang berdarah inggris, sehingga ada sedikit paras bule pada wajah mungil Rachelle.

        


- to be continue -       

Friday, October 5, 2012

promises - cover story



Does "happily ever after" really exist? .....


Awalnya semua baik-baik saja, bahkan terasa menyenangkan. Tinggal bareng papa mama yang baik dan perhatian, punya segala sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan, dan jadi kebanggaan semua orang pasti menyenangkan. Begitulah hidup Rachelle. Tapi, apa semuanya akan terus bahagia? apa semuanya akan terus baik-baik saja?
Entahlah.

Thursday, October 4, 2012

new story begin

maaf kawan, aku jadi niat bikin cerita lain, cerita baru._. jadi cerita yang unnamed-story di tunda dulu._. baiklah, saya coba buat cerita yang ini dulu yaa~

pengennya sih judulnya : "Promises" . coba aja deh ya, bikin dulu. ganbatte cepi-chan ^o^9

[unnamed story] - part 1

one


       21st of June 2011
       Dear Diary,

       Tepat 6 tahun gue tinggal disini... tapi, akhirnya gue balik juga ke
       Indonesia. waa.. kangen juga sama Jakarta. Kayak apa ya setelah
       terakhir ke Indonesia 2 tahun lalu.. Jadi nggak sabar pengen buru buru
       ke Indonesia... hahahah.. eh, tapi paling kangen sama my sweetheart,
       Briant♥ awww.... kangen bangeett... Can't wait to see him >.<
       Dan kayaknya, remigrasi (cieilah bahasanya :p) kali ini bakalan seru
       banget.. eh, tapi kakakku yang paling kusayang, Elton, nggak ikut :( dia 
       harus nyelesai-in kuliahnya:( hikss... Gapapa deh, nanti juga nyusul,
       hehehe..

       Yup, so long Denver!
       Indonesia, here I come!



♥ ♥ ♥

       "Honey, come on, hurry! Yang lain udah nunggu di mobil. Kamu nggak mau nunggu 3 jam lagi buat nunggu penerbangan pesawat berikutnya, kan?"
       "Yeah, mom. I'll be there in few minutes," sahut Tiffany.
       "Rielle, hurry up. Come on, slowpoke!" terdengar teriakan anak laki-laki yang sudah pasti dikenal Tiffany. Jerry, adik Tiffany yang bawel dan rese.
       "Iya! Bawel amat, sih. Huh!" gerutu Tiffany sambil memasukkan buku diary─ yang diberikan "Sweetheart"-nya saat berpisah di Bandara Soekarno-Hatta 2 tahun lalu─ yang baru saja ditulisnya kedalam tasnya, lalu keluar dari kamar.



♥ ♥ ♥


       "Ree, habis ngapain kamu? lama amat," kata Dad yang sedari tadi menunggu di bangku pengemudi di mobil.
       "He..he.. Sorry, Dad. Aku ngecek kamar aja kok, takut ada yang ketinggalan," jawab Tiffany, dengan sedikit kebohongan tentunya, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah Jerry. Yup, Tiffany punya segudang alasan untuk menutupi kegemarannya menulis diary. Sebenarnya, dia fine-fine aja kalau nggak diledek sama adiknya yang super-duper-wuper rese!
       "Ngecek kamar ato nulis diary lagi?" tanya si makhluk yang paling bawel sedunia, meledek. Yup, julukan untuk Jerry dari Tiffany.
       "Not your business," sahut Tifanny jutek sambil memasang earphone di telinganya. Sangat jutek. Dia kesel banget kalau udah diganggu sama that disastrous boy. "Dasar mood-breaker" gerutu Tiffany dalam hati. 
Ya, kalo jadi Tiffany, mungkin kalian para pembaca juga stress menghadapi anak yang satu ini. Tiffany bosan meladeni adiknya yang rese, cerewet, ca-per, dan iseng itu. Sangat berbeda dengan si sulung, Elton. Wah, kalau Elton sih, tipe pangeran banget. Selain wajahnya yang tampan, ia juga memliki suara berat yang khas dan mampu menghanyutkan orang yang mendengarnya. Mata birunya juga dapat membuat orang yang melihatnya "melt". Dia juga sangat perhatian, baik dan juga pintar. Perfect.Makanya, Tiffany sangat bangga punya kakak seperti Elton.

       "Elton, kamu yakin sama keputusan kamu?" tanya Papa lewat jendela mobil, memastikan.
       "Aye aye, captain. Aku yakin. Kalian tenang aja, nggak usah kuatir. I'll be fine. Aku pasti nyusul ke Indonesia kalo kuliahku sudah selesai," jawab Elton mantap dengan senyum manis yang sersungging di bibirnya. Senyuman yang dapat membuat semua wanita takluk padanya.
       "Yah, kakak. Kenapa kak Elton yang tinggal? Kenapa bukan si anak rese ini aja yang nggak ikut? " rengek Tiffany manja setelah melepas earphone-nya.
       "Heh, nyindir siapa sih! Yang rese itu siapa? elu sih yang rese!" jawab Jerry tidak terima dengan ledekan Tiffany.
       "Bawel!" sahut Tiffany.
       "Sudahlah. Tiffany, aku janji, setahun lagi aku pasti pulang ke Indonesia," jawab Elton. Ya, ia rasa cukup melegakan mendengar dua adiknya, yang bertengkar terus, diam.
       "Promise?" sahut Tiffany sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
       "I promise," jawab Elton sambil tersenyum dan ikut melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Tiffany. "Sudah sana berangkat, nanti ketinggalan pesawat," lanjutnya sambil mengacak-acak rambut Tiffany.
       "Ya. Jaga dirimu, nak." kata Mama. Mesin mobil dinyalakan. Mobil mulai berjalan menjauh dari rumah. Menjauh dari Elton.
       "Bye-bye, Elton. Gonna miss you!" teriak Tiffany dari jendela mobilnya yang kini semakin menjauh. Kepalanya keluar jendela sambil melambai dan lalu di balas lambaian tangan Elton.
       "Elton aja terus yang di kangenin. Me? Never being missed. Kenapasih lo pilih kasih?" protes Jerry.
       "Pikir aja sendiri!" jawab Tiffany singkat. Lalu memasangkan kembali earphone ditelinganya.


♥ ♥ ♥


       "Bye-bye, Elton. Gonna miss you!"
       "Gonna miss you too," jawab Elton pelan. Setelah puas melambai, karena ia tak ingin berlama-lama diluar, ia segera masuk ke rumah. Ini musim panas. Biasanya dalam musim panas, Elton sangat bersemangat untuk melatih skill-nya dalam olahraga baseball. Tapi, sudah beberapa hari ia merasa lemas. Untungnya terik matahari dan keadaan fisiknya dapat mengurungkan biatnya untuk pergi dari rumah. Lagi. "Mungkinkah? Apakah betul aku lemas seperti ini karena masalah itu? Nggak, aku nggak boleh terlihat sedih dan lemas," kata Elton pada dirinya sendiri, dalam hati.

       "Ma'am, i'm hungry. Prepare the friedrice, please," teriak Elton pada pembantu rumah tangganya.


♥ ♥ ♥


       "Ma, masih jauh nggak?" tanya Tiffany.
       "No, we almost arrived," jawab Mama.
       "Use Indonesian, please," sahut Jerry. "Kita kan mau menetap di Indonesia lagi, jadi kita harus melatih bahasa Indonesia kita lagi. Kalo aku sih nggak perlu dilatih nggak apa-apa. Otakku kan memorinya jauh lebih gede daripada....." 
       "Siapa? Hah? Siapa yang lo sindir?" jawab Tiffany yang langsung be-te lagi.
       "Sensi amat, sih," kata Jerry.
       "Sudahlah, " kata Papa mencoba menengahi dan berhasil.

Denver International Airport

Suasana Denver dan bandaranya pagi itu cukup ramai. Lalu lalang orang-orang berjalan kaki, mobil-mobil yang mulai bersliweran, kesana kemari memadati jalan raya. Biasanya tujuan mereka berlibur, maklumlah summer. Dan, tempat-tempat hiburan pun mulai ramai. Bagi keluarga-keluarga seperti keluarga Tiffany yang bisa dibilang upper-class, biasanya langsung cabut ke luar kota, bahkan keluar negri.

Bandara Denver International lumayan ramai hari ini. Ya, libur panjang sih. 

       "Huahh, akhirnya sampai juga, ya. Capek," kata Tiffany keluar dari mobil lalu merentangkan tangannya.
       "Capek? emang lo ngapain? duduk doang aja capek," cibir Jerry lalu keluar dari mobil juga.
       "Ga suka aja sih lo!" jawab Tiffany be-te lalu berjalan pergi menjauhi Jerry. Jerry mengikuti. Mama, yang sedari tadi melihat mereka beradu mulut, hanya diam menghela napas. Dari sejak kecil, Tiffany dan Jerry selalu bertengkar. Dan Elton yang selalu menengahinya.

      "Kalian ini, dari kecil sampai sekarang udah gede, masih aja bertengkar terus. Ga ada akurnya. Ada apa, sih?" tanya Mama lembut, sambil berjalan mengikuti mereka dan mengelus rambut kedua anak bungsunya. "Kalo dulu sih, Mama bisa santai. Kan ada Elton yang nengahin kalian. Kalo sekarang? Wah, bakalan pusing nih. Jadi, jangan berantem terus, ya," lanjutnya sambil tersenyum kepada mereka. Tapi tetap saja, perkataan Mama tidak bisa membuat mereka akur, entahlah. Mereka tetap membuang muka pada kedua sisi.
Hei, kalo ngomongin soal masa kecil, gue inget sesuatu, hihihi, kata Tiffany dalam hati sambil senyam-senyum sendiri.

       "Kenapa lagi ini malah senyum-senyum sendiri," protes Jerry yang tidak sengaja melihat Tiffany sedang tersenyum setelah mendengar omongan Mama tadi.
       "Dimana, ya, anak itu sekarang?" tanya Tiffany seakan tidak mendengar celotehan Jerry tadi lalu berjalan seakan sedang mencari seseorang.
       "Hah?" Jerry malah bingung. "Ngomong apa sih nih anak," lanjutnya sambil melirik Tiffany dengan tatapan heran. 



♥ ♥ ♥


       "Kak, ambilin robot yang itu dong," kata Jerry kecil sambil menunjuk ke arah robot mainannya yang ada di antara mainan-mainannya yang tengah berserakan.

       "Nih," kata Elton sambil terseyum. Hari ini, memang jadi "Hari Rumah Berantakan" buat rumahnya Tiffany. Hari ini, Jerry udah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit karena kondisinya mulai stabil setelah operasi. Sekarang, Jerry bebas dari penyakit amandel yang cukup membuatnya sengsara. Eh, tunggu, kayaknya bukan cuma dia yang sengsara. Seisi rumah juga sengsara. Ya, bukan cuma karena kasian, tapi ituloh "Konser Rock" (dibaca: tangisan, rengekan, jeritan dan teriakan)-nya itu yang bikin kuping pengang dengan sukses.









- to be continue -