Thursday, December 13, 2012

cerpen - Seperti Mimpi dari Mimpi


Siang ini terik sekali. Langit terlihat sangat terang, tanpa awan. Banyak anak terlihat dijemput orang tuanya. Beberapa masih bermain sepeda di sekitar sekolah sambil bercanda, tidak peduli dengan panasnya cuaca hari ini yang bisa membuat mereka mimisan. Bahkan sekelompok anak laki-laki masih berlari-lari, mengejar bola yang menggelinding cepat di lapangan tanah itu. Tanpa alas kaki. Mereka seperti sudah ‘berteman’ dengan lapangan tanah yang cukup panas karena kena sinar matahari.

Kira duduk manis dibawah pohon mangga di dekat pintu gerbang sekolah, menunggu kakaknya menjemputnya. Kemeja putihnya terlihat kusam, tapi rapi. Sementara rok merahnya masih bagus walaupun masih kepanjangan di tubuh Kira yang mungil. Seragam itu dulu kepunyaan Haruko, kakak Kira yang sekarang sudah duduk di bangku SMP. Teman-teman Kira juga memakai baju yang ‘sejenis’ dengannya. Beberapa yang orang tuanya tergolong mampu, memakai seragam baru yang menurut Kira sangat berkilauan (tentu saja ia membandingkannya dengan miliknya). Sekolahnya sederhana. Bangunannya tidak terlalu besar namun memiliki dataran kecoklatan yang cukup luas, lapangan tanah maksudnya. Cat hijau tua pada dinding-dindingnya mulai pudar, dan pagar kayu yang menjadi gerbang sekolah itu agak lapuk. Meja-meja dan kursi-kursi kayunya masih bagus, baru diganti beberapa tahun yang lalu. Beberapa papan langit-langit kelas lapuk dan mencuat, namun syukurlah atapnya tidak bocor.
SD ini memang berada di desa kecil. Jauh dari bising kendaraan bermotor yang bersliweran, jauh dari polusi udara akibat asap-asap kendaraan, jauh dari kepadatan jalanan. Tentu saja masih banyak pepohonan yang tumbuh. Kalaupun suatu saat oksigen di dunia habis, menurut Kira, pohon-pohon di desa ini akan dengan senang hati memberikan oksigen yang dihasilkannya.


Keringat membasahi dahi dan pipinya yang terlihat kemerahan karena kepanasan. Biasanya kakak nggak se-lama ini, pikir Kira. Kunciran rambutnya turun dan terlihat berantakan. Kira sedang membetulkan ikatan rambutnya ketika ia melihat sepeda kakaknya melaju kearahnya. Haruko terlihat gembira.
“Kira, maaf ya, kakak terlambat jemput kamu,” kata Yuko setelah ia membonceng adiknya dan mengayuh sepedanya.
“Nggak apa-apa kok, kak,” Kira tersenyum. Tangan kecilnya memeluk Yuko dari belakang sementara Yuko masih mengayuh sepedanya.
“Kira, kamu tahu nggak,” Yuko berkata tiba-tiba. “Karen main ke rumah kita, lho.” Yuko menengok ke arah Kira sekilas sambil tersenyum. Karen adalah sepupu jauh mereka yang tinggal di kota. Karen anak orang kaya tetapi ia tidak sombong. Ia mau bermain dengan sepupu-sepupunya yang tinggal didesa. Sama seperti Kira, Karen masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, Karen bersekolah ditempat yang jauh lebih bagus daripada sekolah Kira. Kata Karen, sekolahnya ber-AC tapi bel sekolahnya tidak memakai lonceng betulan. “Aku lebih suka bel sekolahmu, Kira,” kata Karen waktu libur natal tahun lalu ketika mereka mengunjungi sekolah Kira. Karen sudah memiliki sebuah ponsel miliknya sendiri, sementara Kira masih menunggu jawaban dari suratnya (yang berisi permohonan ingin mempunyai sepeda, agar ia tidak perlu merepotkan kakaknya) pada Tuhan yang ia taruh di keranjang didekat jendela kamarnya. Tiba-tiba, Kira ingat isi surat yang terakhir ia tulis. Dalam surat itu, untuk pertama kalinya dan mungkin untuk yang terakhir kalinya (Kira merasa menyesal menulisnya), Kira mengeluh pada Tuhan tentang kondisi ekonomi keluarganya dan lingkungan tempat tinggalnya yang terpencil. Ia mengeluh tentang panasnya siang hari kalau ia dijemput kakaknya naik sepeda, sementara Karen bilang ia pulang-pergi diantar supir naik mobilnya. Ia mengeluh tentang komputer dan internet yang belum ia miliki, tentang ponsel yang selalu ia lihat dari Karen, tentang baju-baju bagus dan aksesori lucu milik Karen. Dalam suratnya itu, secara tidak langsung menunjukan bahwa Kira iri. Kira iri pada saudara sepupunya, Karen. Sepupunya itu memang tidak sombong, tidak meremehkan Karen. Ia memang menunjukan atau menceritakan barang-barangnya pada Kira, tetapi dengan maksud agar Kira tahu dan mungkin mereka bisa memakainya bersama-sama. Tuhan marah nggak, ya, sama Kira karena Kira mengeluh?, pikir Kira dalam hati.

“Kira!”
Suara itu membuyarkan lamunan Kira. Setelah sadar, sepeda Yuko sudah berhenti di depan rumah mereka. Astaga, Kira melamun sepanjang perjalanan pulang.
“Kira!” panggilnya lagi. Itu suara Karen. Ia sedang berdiri di teras rumah Kira.
“Halo, Karen. Apa kabar, kamu?” Kira turun dari sepeda Hana lalu menghampiri Karen sambil tersenyum.
“Aku baik. Kira gimana?” Karen balas tersenyum.
“Kira juga baik-baik aja, kok. Kapan Karen sampai disini?”
“Belum lama, kok.” Karen kembali tersenyum. “Kira, kita main, yuk. Aku hari ini bawa iPad. Kita main sama-sama, ya.” Karen menggandeng tangan Kira masuk kedalam rumah Kira.
Ai-pet?” eja Kira dalam logat bahasa Indonesia.
“Iya, kayak gini, nih” Karen mengeluarkan iPad-nya dari tas Winnie the Pooh miliknya. “Ini namanya iPad. Kata kakakku, ini bisa buat main. Kayak gini caranya,” jelas Karen, lalu ia dengan lihai menggerakan jarinya diatas layar iPad-nya. Kira kagum melihatnya. Canggih, katanya.
Hari itu mereka berdua terlalu asyik bermain iPad , kadang Haruko datang menhampiri mereka dan melihatnya bermain, atau ikut bermain, sampai tiba saatnya untuk Karen pulang ke rumahnya. Karen pamit kepada Kira, Haruko, dan kedua orang tua mereka. Lalu mengucapkan salam dan pulang naik mobil yang biasa ia naiki. Karen biasa pulang-pergi diantar supirnya karena orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Tetapi kata Karen, orang tuanya selalu memperhatikannya.
Sinar matahari siang yang terik sudah berganti dengan sinar bulan sabit yang remang-remang. Kira sedang duduk di tempat tidurnya dan menghadap kearah jendela. Memandang langit dan sekilas memandang keranjang berisi surat-surat permohonan yang ia tujukan kepada Tuhan. Kira percaya setiap malam ketika semuanya terlelap dalam tidurnya masing-masing, Tuhan datang ke rumah Kira dan membaca surat-surat Kira. Lalu Tuhan akan membuat daftar tentang permohonan Kira dan mengurutkannya. Kata Kira, surat yang sudah ditaruh di Keranjang Harapan itu tidak boleh diambil lagi, kalau diambil permohonannya tidak akan terkabul.
Malam ini Kira hanya duduk, mandang surat-surat yang ia tulis dalam Keranjang Harapan-nya. Ia berharap Tuhan tidak marah ketika membaca surat terakhirnya. Kira sekarang menyesal, dan ia memutuskan untuk berdoa.
Kira melipat tangannya, lalu memejamkan mata. “Tuhan, Kira minta maaf. Nanti malam, waktu Tuhan baca surat Kira, Tuhan jangan marah, ya. Kira sebenarnya tidak bermaksud menyalahkan Tuhan karena telah memberi Kira hidup seperti ini. Kira hanya ingin merasakan menjadi orang kaya, seperti Karen. Karen terlihat bahagia terus, nggak kesusahan kayak Kira sama kakak, kayak ibu sama bapak,” Kira diam sejenak, menarik napas panjang. Lalu ia melanjutkan, “Tapi kalau Tuhan bolehin, Kira pingin sekali menjadi orang kaya. Kayak Karen gitu, Tuhan. Punya ponsel sendiri, punya sepeda, rumahnya bagus, punya mobil. Boneka-bonekanya lucu. Bajunya juga bagus-bagus. Kira yakin, suatu saat nanti Tuhan kabulkan doa Kira. Amin,” Kira membuka matanya. Ia terdiam sejenak, kembali memandang kumpulan suratnya, lalu akhirnya memutuskan untuk tidur.
Kira terbangun dari tidurnya yang empuk dan menguap. Kira melihat jendela yang memperlihatkan suasana malam. Kira mengusap mata lalu melihat sekelilingnya. Kira terkejut melihat apa yang ia lihat. Ia berada di ruangan yang besar, bercat warna merah muda, dengan meja belajar yang indah, dan laptop diatasnya. Ia duduk di sebuah ranjang yang empuk, yang dibelakangnya terdapat meja berisi boneka-boneka lucu. Ia kembali mengusap matanya dengan cepat. Kira yakin ini bukan kamarnya. Kira merasa ada di alam mimpi, tetapi mengapa mimpi itu begitu nyata? Ketika ia sedang berpikir ketika ia melihat di depan kiri ruangan terdapat pintu yang ada gantungan nama bertuliskan “Karenina” terbuka cepat. Kira tersentak kaget, Kira melihat Karen bergegas membuka laci meja belajarnya dan laci lemari di sampingnya dan membongkarnya, seperti sedang mencari sesuatu. Lalu terdengar teriakan keras dari seseorang yang kedengaran seperti suara Rachel, kakak Karen yang judes dan galak. “Cepetan ih, temuin jaket gue yang lo pinjam kemarin,” sedetik kemudian, Rachel sudah berada di kamar Karen, berkacak pinggang marah. Kira yang menyadari dirinya di atas ranjang Karen langsung turun dan melihat mereka dengan sorot mata ketakutan. Kira sedang mempersiapkan mental untuk dimarahi Rachel ketika ia ditembus begitu saja oleh Karen yang bersiap mengacak-acak isi lemari belakangnya. Kira tersentak, ia kaget karena ia melihat Karen menembus dirinya, tetapi ia tidak merasakan apa-apa. Kira membalikkan badan dan mendapati Karen berdiri dan berjalan ke arah Rachel sambil membawa sebuah jaket biru berhiaskan pita putih dibagian belakangnya. Kira melihat Karen memberikan jaket itu kepada Rachel yang mendengus, lalu melihat tajam ke arah adiknya, lalu pergi meninggalkan Karen setelah menerima jaketnya. Karen menutup pintu dengan pelan lalu berjalan menuju meja belajarnya. Kira mendekati Karen, dan duduk di kursi disebelah Karen. Kira menepuk lengan Karen, lalu berkata, ”Karen kenapa?”. Tetapi Karen hanya diam menatap kosong kearah foto yang terbingkai rapi di meja belajarnya. Foto yang memperlihatkan keluarga bahagia, dengan empat orang yang tersenyum didalamnya. Melihat Karen yang diam, Kira mengalihkan pandangan ke arah foto itu. Kira melihat mama dan papa Karen, Rachel dan seorang anak perempuan yang menurut Kira adalah Karen. Keempatnya tersenyum tulus. Ketika Kira sedang asyik memperhatikan foto itu, Karen menghela napas. Lalu ia melipat tangannya dan memejamkan matanya. Ia berkata, “Selamat malam Tuhan. Hari ini, Karen berterimakasih karena telah diberi kesempatan untuk masih bisa hidup disini, bersama keluarga. Terimakasih karena Karen sudah diberi makanan enak dan baju yang layak. Karen hanya sedih melihat sikap kakak yang begitu judes terhadapku,” Karen kembali menghela napas panjang. Kira tahu, Rachel bersikap begitu karena Karen adalah anak kesayangan mama dan papa mereka. “Karen juga kangen sama mama dan papa yang dulu selalu ada buat Karen. Karen mengerti, sih, mama dan papa sibuk bekerja untuk kakak dan Karen. Tetapi Karen ingin mereka lebih memperhatikan kakak dan juga Karen ingin mereka punya waktu yang banyak untuk kami habiskan bersama-sama. Karen ingin seperti keluarganya Kira,” Mata kira membesar mendengarnya. “Walaupun mereka hidup sederhana, mereka sangat harmonis. Saling mengerti satu sama lain. Kira pasti senang punya kakak yang ramah dan baik hati seperti kak Yuko. Kira juga nggak akan kesepian, karena mama dan papanya pasti ada disana menemani Kira. Karen... ingin seperti Kira.” Kalimat terakhir ini membuat Kira tersadar. Kehidupan Karen tidak seindah yang ia bayangkan. Ternyata, Karen merasa kesepian. Tidak seperti keluarga Kira yang selalu ada di sana menemaninya. Walaupun Karen hidup mewah, tetapi ia kesepian. Ia tidak lebih bahagia jika dibandingkan dengan Kira yang lebih sederhana namun sangat bahagia. Kira sadar dan mulai menerima kenyataan bahwa ia lebih beruntung dari Karen.
“Kira, bangun sayang,” Suara ibu menggema ditelinga Kira. Seketika sosok Karen yang sedang berdoa dan suasana kamar mewahnya mulai kabur dan digantikan dengan sosok ibu di kamar Kira.
“Kira, ayo siap-siap. Katanya mau jalan-jalan sama Karen?” Ibu tersenyum, dan duduk di ranjang bekas yang biasa saja, tanpa renda-renda seperti yang ia lihat tadi. Ibu membelai dahi dan rambut Kira. Kira yang masih setengah sadar berkata, “Karen mana, bu?”
“Lho, Karen dirumahnya, lah,” Kata Ibu dengan logat Jawa yang khas. “Kok kamu nanya Karen, ada apa, nak?” Kira bingung, namun ia memutuskan untuk menjawab, “Nggak apa-apa kok, bu,” lalu ia tersenyum. Ibu ikut tersenyum, lalu berdiri dan berkata, “Ayo, kamu mandi, setelah itu sarapan. Ibu di dapur ya, Kira,”
“Iya, bu,” Kira masih terbaring di ranjangnya ketika ibu meninggalkan kamarnya. Kamarnya masih seperti biasanya. Lampu kecil menerangi ruangan kecilnya. Meja belajar kayunya masih berdiri tegak disamping pintu. Di jendelanya maish terdapat sekeranjang surat miliknya. Kira sadar bahwa kejadian tadi hanya mimpi. Mimpi yang begitu nyata. Mengingat suratnya, Kira mengambil Keranjang Harapan-nya dan betapa kagetnya ia melihat tidak ada surat yang ia tulis ditumpukan atas. Kira bergegas turun dari ranjang dan sudah memutuskan akan berjalan ke teras hendak menanyakan kepada ayah apakah ayah iseng membaca suratnya lagi, ketika ia berhenti didepan pintu, melihat sepucuk surat tergeletak di atas meja belajarnya. Itu surat terakhir yang ia tulis. Tunggu, kenapa surat itu bisa ada disini?. Pikir Kira. Ia mengambil surat itu, dan matanya membesar ketika membaca tulisan di amplop surat yang bertuliskan dengan tinta hitam: “ Jadi, Kira ingin bertukar hidup dengan Karen? “. Kira tersenyum melihatnya. Kira menggeleng pelan dan walaupun perhatiannya masih tertuju pada tulisan itu, ia langsung menjawab, “Nggak, Tuhan. Kira ingin menjadi Kira sendiri. Kira bangga dengan keluarga dan hidup Kira sendiri. Makasih Tuhan,” Kira tersenyum. Ia meletakan surat itu kembali ke Keranjang Harapan-nya dan bergegegas pergi ke kemar mandi dengan ceria.
***
Kira sedang menunggu di teras ketika ia melihat mobil Karen berhenti di jalan kecil depan rumahnya. Karen turun dari mobil dan menghampiri Kira. Kira tersentak ketika melihat Karen memakai jaket biru berhiaskan pita putih dibelakangnya. Jaket yang sama yang ia lihat Karen mencarinya kemana-mana kemarin. Jaket yang ia temukan di laci lemari bonekanya. Jaket yang sama yang ada di mimpi Kira. Karen tersenyum lalu berkata, “Maaf ya, Kira. Aku terlambat. Habisnya, butuh waktu lama untuk memohon pada kak Rachel untuk meminjamkannya lagi kepadaku setelah aku hilangkan kemarin. Untung ketemu di kamarku. Aku lupa menaruhnya saat aku main boneka, aku malah menyimpannya bersama bonekaku di laci lemari,” Karen tertawa kecil. Mata Kira masih membesar dan mulutnya terbuka, ketika Karen mengehela napas ringan lalu berkata, “Hidup itu kadang-kadang kayak mimpi, ya” Mata Karen menerawang. Kira tidak mengerti maksud ucapan Karen dan masih ternganga. Melihat Kira masih terdiam, Karen tersenyum, ia menggandeng tangan Kira lalu berkata, “Kira? Kok bengong. Ayo, nanti kita makin terlambat,” mereka berdua melambai ke arah keluarga Kira, tersenyum, lalu masuk kedalam mobil. Setelah didalam mobil, Kira berkata kepada Karen. “Karen, tadi malam aku mimpiin kamu, lho,” Katanya riang. “Kamu lagi berdoa waktu aku ada disamping kamu, terus aku kebangun, deh.” Mata Karen membesar, lalu berkata, “Oh, ya? Pantasan aku merasa seperti ada orang yang menepuk pundak aku waktu aku berdoa,” Karen tersenyum, lalu ia mendengar Kira berkata, “Ternyata hidup itu memang kayak mimpi,” lalu mereka berdua tersenyum.

Cerpen Numpang Lewat

Hehehe, maaf ya udah lama banget ngga nge-post. nanti deh, mau dilanjutin. ini lagi ada cerpen, tugas sih sebenernya. masih berantakan juga, habisnya lagi gajelas sih ._.v baiklah, tolong dibaca ya ^^

Saturday, October 6, 2012

promises - part one

       "Happy birthday, Rachelle."
Terlihat seorang ibu sedang menyambut seorang anak perempuan yang baru turun dari tangga lantai atas.
       "Thank you, Ma," kata anak cewek yang ternyata sedang berulang-tahun hari ini. Ia menerima cium sayang di pipinya dari ibunya setelah memberi ucapan selamat ulang tahun. Mama lalu memberinya kado yang dilapisi kertas bercorak polkadot berwarna putih dengan background warna biru langit, warna kesukaannya. Kado yang diberikan mama berbentuk kotak kecil dan tidak berat.

       "Ini isinya apa, Ma?" tanya Rachelle sambil menggoyangkan kotak yang diberikan mama didekat telinga, seakan dengan mendengar bunyi dari dalam kotak itu dapat memberi clue tentang teka-teki apa yang ada di dalam kado itu.
       "Coba aja kamu buka," jawab mama dengan senyum lebar di bibirnya. Karena Rachelle tidak berhasil mendapatkan clue dari suara yang dihasilkannya, dan tentunya tidak berhasil menebak, ia langsung membuka kertas yang melapisi kotak kecil itu. Kotak ini dilapisi kain beludru yang berwarna merah. Kotak ini terlihat seperti kotak perhiasan. Rachelle lalu membuka kotak tersebut dengan gerakan lambat, seperti gerakan slowmotion di film-film action yang mendebarkan. Setelah melihat isinya, Rachelle terkejut lalu tersenyum. Rachelle memeluk kotak tersebut, lalu ia teringat pada pemberi hadiah tersebut. Ia memeluk mamanya erat sambil berkata, "Makasih ya ma, aku suka banget kalungnya."

       "Kamu suka, sayang? Mama seneng kalo kamu suka," jawab mama setelah melepas peluknya dari Rachelle.
       "Suka banget, ma." Rachelle kembali tersenyum dan memandang lekat mamanya. "Ma, tolong pasangin dong kalungnya,"
Rachelle menyodorkan kotak berisi kalung tersebut ke mamanya. Mamanya lalu memasang kalung tersebut di leher anak tunggalnya.

       "Cantik. Kamu cantik, Rachelle," terdengar suara berat berwibawa, suara papa.
       "Papa, udah bangun?" tanya Rachelle pada papanya sambil tersenyum. Rachelle melihat kembali kalung yang berada di lehernya lalu menyentuhnya.
       "Udah dong, masa papa telat bangun buat ngerayain hari ulang tahun anak papa yang cantik ini," jawab papa sambil berjalan mendekati sofa tempat istri dan anaknya berada. "happy birthday, Chelle,"

       "Makasih, pa," jawab Rachelle setelah mendapat kecupan di keningnya, lalu tersenyum.
       "Ini, papa punya hadiah buat kamu." Papa langsung memberikannya sebuah tas yang cukup besar dengan bentuk yang aneh, yang daritadi disembunyikan dibalik tubuhnya. Bentuk tasnya aneh. Ini bukan ransel, pikir Rachelle. Rachelle mengambilnya dari tangan papa, lalu terdiam. Ia sadar betul ini bukan ransel. Ini biola.

       "Papa, ini biola? Buat aku?" tanya Rachelle dengan girang.
       "Iya, biola itu punya kamu. Papa tau kamu suka musik. Jangan kira papa ngga tau kamu suka pinjem biola temen kamu terus mainin lagunya di teras atas."
       "Ih, kok papa bisa tau?"
       "Papa gitu loh. Papa kan ngerti banget kesukaan anak kesayangannya. Keren, kan?" sahut papa dengan senyum bangga menghiasi wajahnya yang terlihat segar.
       "Iya lah, orang mama yang kasih tau papa,"  timpal mama yang sekarang langsung dielak papa.
       "Ngga kok, Chelle. Papa emang sebelumnya udah tau, ya mama cuma nyampein aja, tapi awalnya papa udah tau kok," jawab papa berusaha meyakinkan Rachelle yang seadritadi hanya tertawa kecil.
       "Bohong, Chelle. Papa taunya dari mama itu," sambung mama lagi, Rachelle tertawa mendengarnya.
       "Jangan percaya mama, Chelle. Papa beneran tau kok," jawab papa sekali lagi, berusaha membuat Rachelle percaya padanya. Rachelle tertawa lagi, diikuti tawa mama. "Udah ah, ayo sana siap-siap. Kita jalan-jalan yuk hari ini,"
       "Mau kemana kita, Pa?" tanya Rachelle.
       "Terserah kamu, Chelle. Hari ini kamu bebas nentuin mau kemana kita jalan-jalan," jawab mama yang kini mendekati Rachelle dan papa yang sudah duduk berhadapan di sofa ruang tamu. Sedari tadi mama sibuk menyiapkan sarapan.

       "Asyik! kalau gitu aku mau siap-siap dulu ya, Ma, Pa," jawab Rachelle bersemangat. Sangat bersemangat.
       "Chelle, sarapan dulu. Baru kalau udah selesai sarapan kamu siap-siap," kata mama mengingatkan.
       "Oh iya, oke deh, ayo kita sarapan!" jawab Rachelle riang setelah menaruh biolanya di sofa ruang keluarga.

~~~~~~~~~

       Rachelle senang sekali, ulang tahunnya kali ini sangat menyenangkan. Selain diberi kalung, bertuliskan "Rachelle" diatas liontin berbentuk hati yang menggembung, dan diberi biola yang dangat diinginkannya, ia juga merasa semakin dekat dengan keluarga kecilnya. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya di rumah yang terbilang mewah dan di kawasan elit pula. Hanya sajaa ia tidak mempunyai saudara. Rachelle anak tunggal. Anak tunggal yang sangat dibanggakan kedua orang tuanya, bahkan orang lain.

       Rachelle memiliki paras cantik dengan tinggi badan rata-rata anak kelas 5 SD. Rambut hitamnya panjang (sedikit bergelombang dibagian bawahnya) dan cukup tebal. Kulitnya terbilang putih mulus dan badannya cukup mungil. Matanya cukup besar dengan iris berwarna abu-abu kehitaman. Kakek Rachelle dari ibu memang berdarah inggris, sehingga ada sedikit paras bule pada wajah mungil Rachelle.

        


- to be continue -       

Friday, October 5, 2012

promises - cover story



Does "happily ever after" really exist? .....


Awalnya semua baik-baik saja, bahkan terasa menyenangkan. Tinggal bareng papa mama yang baik dan perhatian, punya segala sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan, dan jadi kebanggaan semua orang pasti menyenangkan. Begitulah hidup Rachelle. Tapi, apa semuanya akan terus bahagia? apa semuanya akan terus baik-baik saja?
Entahlah.

Thursday, October 4, 2012

new story begin

maaf kawan, aku jadi niat bikin cerita lain, cerita baru._. jadi cerita yang unnamed-story di tunda dulu._. baiklah, saya coba buat cerita yang ini dulu yaa~

pengennya sih judulnya : "Promises" . coba aja deh ya, bikin dulu. ganbatte cepi-chan ^o^9

[unnamed story] - part 1

one


       21st of June 2011
       Dear Diary,

       Tepat 6 tahun gue tinggal disini... tapi, akhirnya gue balik juga ke
       Indonesia. waa.. kangen juga sama Jakarta. Kayak apa ya setelah
       terakhir ke Indonesia 2 tahun lalu.. Jadi nggak sabar pengen buru buru
       ke Indonesia... hahahah.. eh, tapi paling kangen sama my sweetheart,
       Briant♥ awww.... kangen bangeett... Can't wait to see him >.<
       Dan kayaknya, remigrasi (cieilah bahasanya :p) kali ini bakalan seru
       banget.. eh, tapi kakakku yang paling kusayang, Elton, nggak ikut :( dia 
       harus nyelesai-in kuliahnya:( hikss... Gapapa deh, nanti juga nyusul,
       hehehe..

       Yup, so long Denver!
       Indonesia, here I come!



♥ ♥ ♥

       "Honey, come on, hurry! Yang lain udah nunggu di mobil. Kamu nggak mau nunggu 3 jam lagi buat nunggu penerbangan pesawat berikutnya, kan?"
       "Yeah, mom. I'll be there in few minutes," sahut Tiffany.
       "Rielle, hurry up. Come on, slowpoke!" terdengar teriakan anak laki-laki yang sudah pasti dikenal Tiffany. Jerry, adik Tiffany yang bawel dan rese.
       "Iya! Bawel amat, sih. Huh!" gerutu Tiffany sambil memasukkan buku diary─ yang diberikan "Sweetheart"-nya saat berpisah di Bandara Soekarno-Hatta 2 tahun lalu─ yang baru saja ditulisnya kedalam tasnya, lalu keluar dari kamar.



♥ ♥ ♥


       "Ree, habis ngapain kamu? lama amat," kata Dad yang sedari tadi menunggu di bangku pengemudi di mobil.
       "He..he.. Sorry, Dad. Aku ngecek kamar aja kok, takut ada yang ketinggalan," jawab Tiffany, dengan sedikit kebohongan tentunya, lalu masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah Jerry. Yup, Tiffany punya segudang alasan untuk menutupi kegemarannya menulis diary. Sebenarnya, dia fine-fine aja kalau nggak diledek sama adiknya yang super-duper-wuper rese!
       "Ngecek kamar ato nulis diary lagi?" tanya si makhluk yang paling bawel sedunia, meledek. Yup, julukan untuk Jerry dari Tiffany.
       "Not your business," sahut Tifanny jutek sambil memasang earphone di telinganya. Sangat jutek. Dia kesel banget kalau udah diganggu sama that disastrous boy. "Dasar mood-breaker" gerutu Tiffany dalam hati. 
Ya, kalo jadi Tiffany, mungkin kalian para pembaca juga stress menghadapi anak yang satu ini. Tiffany bosan meladeni adiknya yang rese, cerewet, ca-per, dan iseng itu. Sangat berbeda dengan si sulung, Elton. Wah, kalau Elton sih, tipe pangeran banget. Selain wajahnya yang tampan, ia juga memliki suara berat yang khas dan mampu menghanyutkan orang yang mendengarnya. Mata birunya juga dapat membuat orang yang melihatnya "melt". Dia juga sangat perhatian, baik dan juga pintar. Perfect.Makanya, Tiffany sangat bangga punya kakak seperti Elton.

       "Elton, kamu yakin sama keputusan kamu?" tanya Papa lewat jendela mobil, memastikan.
       "Aye aye, captain. Aku yakin. Kalian tenang aja, nggak usah kuatir. I'll be fine. Aku pasti nyusul ke Indonesia kalo kuliahku sudah selesai," jawab Elton mantap dengan senyum manis yang sersungging di bibirnya. Senyuman yang dapat membuat semua wanita takluk padanya.
       "Yah, kakak. Kenapa kak Elton yang tinggal? Kenapa bukan si anak rese ini aja yang nggak ikut? " rengek Tiffany manja setelah melepas earphone-nya.
       "Heh, nyindir siapa sih! Yang rese itu siapa? elu sih yang rese!" jawab Jerry tidak terima dengan ledekan Tiffany.
       "Bawel!" sahut Tiffany.
       "Sudahlah. Tiffany, aku janji, setahun lagi aku pasti pulang ke Indonesia," jawab Elton. Ya, ia rasa cukup melegakan mendengar dua adiknya, yang bertengkar terus, diam.
       "Promise?" sahut Tiffany sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
       "I promise," jawab Elton sambil tersenyum dan ikut melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Tiffany. "Sudah sana berangkat, nanti ketinggalan pesawat," lanjutnya sambil mengacak-acak rambut Tiffany.
       "Ya. Jaga dirimu, nak." kata Mama. Mesin mobil dinyalakan. Mobil mulai berjalan menjauh dari rumah. Menjauh dari Elton.
       "Bye-bye, Elton. Gonna miss you!" teriak Tiffany dari jendela mobilnya yang kini semakin menjauh. Kepalanya keluar jendela sambil melambai dan lalu di balas lambaian tangan Elton.
       "Elton aja terus yang di kangenin. Me? Never being missed. Kenapasih lo pilih kasih?" protes Jerry.
       "Pikir aja sendiri!" jawab Tiffany singkat. Lalu memasangkan kembali earphone ditelinganya.


♥ ♥ ♥


       "Bye-bye, Elton. Gonna miss you!"
       "Gonna miss you too," jawab Elton pelan. Setelah puas melambai, karena ia tak ingin berlama-lama diluar, ia segera masuk ke rumah. Ini musim panas. Biasanya dalam musim panas, Elton sangat bersemangat untuk melatih skill-nya dalam olahraga baseball. Tapi, sudah beberapa hari ia merasa lemas. Untungnya terik matahari dan keadaan fisiknya dapat mengurungkan biatnya untuk pergi dari rumah. Lagi. "Mungkinkah? Apakah betul aku lemas seperti ini karena masalah itu? Nggak, aku nggak boleh terlihat sedih dan lemas," kata Elton pada dirinya sendiri, dalam hati.

       "Ma'am, i'm hungry. Prepare the friedrice, please," teriak Elton pada pembantu rumah tangganya.


♥ ♥ ♥


       "Ma, masih jauh nggak?" tanya Tiffany.
       "No, we almost arrived," jawab Mama.
       "Use Indonesian, please," sahut Jerry. "Kita kan mau menetap di Indonesia lagi, jadi kita harus melatih bahasa Indonesia kita lagi. Kalo aku sih nggak perlu dilatih nggak apa-apa. Otakku kan memorinya jauh lebih gede daripada....." 
       "Siapa? Hah? Siapa yang lo sindir?" jawab Tiffany yang langsung be-te lagi.
       "Sensi amat, sih," kata Jerry.
       "Sudahlah, " kata Papa mencoba menengahi dan berhasil.

Denver International Airport

Suasana Denver dan bandaranya pagi itu cukup ramai. Lalu lalang orang-orang berjalan kaki, mobil-mobil yang mulai bersliweran, kesana kemari memadati jalan raya. Biasanya tujuan mereka berlibur, maklumlah summer. Dan, tempat-tempat hiburan pun mulai ramai. Bagi keluarga-keluarga seperti keluarga Tiffany yang bisa dibilang upper-class, biasanya langsung cabut ke luar kota, bahkan keluar negri.

Bandara Denver International lumayan ramai hari ini. Ya, libur panjang sih. 

       "Huahh, akhirnya sampai juga, ya. Capek," kata Tiffany keluar dari mobil lalu merentangkan tangannya.
       "Capek? emang lo ngapain? duduk doang aja capek," cibir Jerry lalu keluar dari mobil juga.
       "Ga suka aja sih lo!" jawab Tiffany be-te lalu berjalan pergi menjauhi Jerry. Jerry mengikuti. Mama, yang sedari tadi melihat mereka beradu mulut, hanya diam menghela napas. Dari sejak kecil, Tiffany dan Jerry selalu bertengkar. Dan Elton yang selalu menengahinya.

      "Kalian ini, dari kecil sampai sekarang udah gede, masih aja bertengkar terus. Ga ada akurnya. Ada apa, sih?" tanya Mama lembut, sambil berjalan mengikuti mereka dan mengelus rambut kedua anak bungsunya. "Kalo dulu sih, Mama bisa santai. Kan ada Elton yang nengahin kalian. Kalo sekarang? Wah, bakalan pusing nih. Jadi, jangan berantem terus, ya," lanjutnya sambil tersenyum kepada mereka. Tapi tetap saja, perkataan Mama tidak bisa membuat mereka akur, entahlah. Mereka tetap membuang muka pada kedua sisi.
Hei, kalo ngomongin soal masa kecil, gue inget sesuatu, hihihi, kata Tiffany dalam hati sambil senyam-senyum sendiri.

       "Kenapa lagi ini malah senyum-senyum sendiri," protes Jerry yang tidak sengaja melihat Tiffany sedang tersenyum setelah mendengar omongan Mama tadi.
       "Dimana, ya, anak itu sekarang?" tanya Tiffany seakan tidak mendengar celotehan Jerry tadi lalu berjalan seakan sedang mencari seseorang.
       "Hah?" Jerry malah bingung. "Ngomong apa sih nih anak," lanjutnya sambil melirik Tiffany dengan tatapan heran. 



♥ ♥ ♥


       "Kak, ambilin robot yang itu dong," kata Jerry kecil sambil menunjuk ke arah robot mainannya yang ada di antara mainan-mainannya yang tengah berserakan.

       "Nih," kata Elton sambil terseyum. Hari ini, memang jadi "Hari Rumah Berantakan" buat rumahnya Tiffany. Hari ini, Jerry udah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit karena kondisinya mulai stabil setelah operasi. Sekarang, Jerry bebas dari penyakit amandel yang cukup membuatnya sengsara. Eh, tunggu, kayaknya bukan cuma dia yang sengsara. Seisi rumah juga sengsara. Ya, bukan cuma karena kasian, tapi ituloh "Konser Rock" (dibaca: tangisan, rengekan, jeritan dan teriakan)-nya itu yang bikin kuping pengang dengan sukses.









- to be continue -










       







Wednesday, April 4, 2012

just another random scribble....



HEY, SUP?

Greetings, people.. my name is Maria Stephany, and usually called as Stefi.. Dann, saya disini ingin coba-coba nulis apa yang ada di khayalan saya.. emang belom bagus, dan pasti cacad... tapi apasalahnya nyoba? hehe.. So, checkitout!! >.<